Published On: Thu, Sep 15th, 2011

Tanah Papua Kah, Tana Toraja Kah, Sama Saja…4

Share This
Tags

* Potret Kehidupan Perantau Toraja di Manokwari

Seorang warga Solata,orang Toraja berjualan Bakso Toraja di kota Sorong, Papua. Foto:sevilla99.


PULUHAN tahun hidup dan beranak cucu di perantauan rupanya membuat warga asal Toraja yang bermukim di Kabupaten Manokwari, Provinsi Papua Barat, menyimpan keinginan menikmati masa tua di kampung halaman. Meski begitu terselip kekuatiran kalau mereka serta anak cucu yang lahir di perantauan sulit atau tidak sanggup lagi menyesuaikan diri dengan kekinian Toraja, baik menyangkut dinamika, lingkungan maupun masyarakatnya.

Menjelang sore, para pemukim di Fanindi Bengkel Tan sudah kembali ke rumah masing – masing, kompleks ini mulai memperlihatkan denyut kehidupan sebuah komunitas sekaligus ciri khas ke-Torajaan-nya. Generasi tua berkomunikasi dalam bahasa Toraja. Sementara generasi kedua dan ketiga berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan dialek Melayu Papua.

Sesekali Thomas menyapa para tetangga yang mulai berdatangan. “Manasumo?” sapa seorang ibu kepadanya. Ibu itu adalah seorang pegawai Dinas Tenaga kerja dan Transmigrasi Manokwari. Thomas menyambutnya dengan senyum simpul, lantas memberi ibu itu sebuah jeruk manis. Kami sempat larut dalam perbincangan sebelum ibu itu pamit. “E kurre, yamoke kutarru’pa,” kata ibu itu berterima kasih, sebelum berjalan menuju rumahnya.

Waktu dan pengalaman hidup terus mengalir hingga Thomas tak semuda dulu. Ia juga merasa bagian dari alur kesejarahan Tanah Papua. Kontribusinya bagi Tanah Papua tak lain adalah pengabdiannya sebagai guru yang bertahun –tahun mendidik ratusan anak pedalaman Papua.

Baginya, Tak ada lagi yang nomor satu; Toraja atau Papua. Terlebih Thomas mengenal betul kebudayaan lokal berkat interaksinya dengan masyarakat lokal. Gejolak yang terjadi di Tanah Papua termasuk adanya aspirasi dan tuntutan kemerdekaan Papua tak membuatnya beralasan pulang kampung, kecuali karena kerinduan pada sanak saudara dan tanah leluhur. Sesuatu yang manusiawi.

Kini kulitnya mulai dihiasi guratan tanda umur yang mulai uzur. Rambut mulai memutih sana-sini. Wajahnya pun mulai memancarkan keletihan, barangkali seletih sang ayahnya yang ia tinggalkan 37 tahun silam. “Kalau pulang ke Toraja, keluarga saya akan kehilangan pencaharian. Biar lahir disana saya sudah tidak terbiasa. Apalagi sejak orang tua tidak ada,” ucapnya menghela nafas panjang.

Ia pun terdiam, menerawang jauh, lalu kembali bertutur, “Tahun ini saya pensiun. Pulang dan bertahan disini itu dilema. Budaya Toraja itu tidak bisa saya lupakan. Apalagi saya lahir di sana. Tapi dari pada pusing pikir pulang atau tidak, lebih baik jalani hidup. Prinsip saya manusia dimanapun pasti mati. Tanah Papua kah, Tana Toraja kah, sama saja…”[www.torajacybernews.com]

Sumber Foto:http://sevilla99.wordpress.com/2008/08/27/bakso-toraja/

Oleh: Patrix Barumbun Tandirerung

Patrix Barumbun

Penulis, Patrix Barumbun Tandirerung adalah seorang Jurnalist. Sekarang bekerja sebagai Managing Editor Harian Umum Cahaya Papua Manokwari. Serial tulisan ini diposting penulis di laman grup FB Solata Social Network (SSN), Rabu (14/9)

Displaying 5 komentar
Have Your Say
  1. Regi Mayani says:

    Keren euy, pengen jg bakso toraja ada d bandung, kpn ya..

  2. Frans Bore says:

    Luar biasa
    Tulisan ini kiranya dapat menyadarkan masyarakat toraja di perantuan akan kebudayaan Toraja yang tak kan bisa terlupakan !!!!!!!!!!!!

  3. Gidion Turuallo says:

    Website ini sangat membantu masyarakat Toraja yang berdomisili jauh dari Toraja, bagi saya, up to date news yang disajikan di website ini, sangat membantu mengikuti perkembangan terkini di kampung halaman tercinta ini walaupun berada di luar negeri…. Thanks TCN

    • Admin says:

      Terima kasih Pak Gidion,
      Situs ini memang dan akan selalu melayani kebutuhan informasi bagi Sangtorayan di mana sana berada.
      Selain itu, dapat juga dijadikan sebagai media berbagi dan menghubungkan kita Sangtorayan.

      Salama’ kaboro’, GBU.

  4. Maya says:

    Sekali-kali liput donk Merauke..
    Di Merauke ada sgt byk org Toraja

Bagaimana Pendapat Anda...?

Note: Mohon tidak membuat spam. Terima Kasih Anda Telah Menyumbangkan Pendapat

Twitter Updates

    Switch to our mobile site